Indonesia, Bangkitlah!

Belum lama ini bangsa Indonesia dikejutkan oleh jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung salak Bogor. Kecelakaan ini membawa kedukaan  mendalam bukan hanya bagi keluarga korban, melainkan juga bagi seluruh bangsa Indonesia. Ribuan orang terlihat dalam proses pencarian dan evakuasi korban. Ucapan belasungkawa bahkan disampaikan langsung oleh  Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono.

Pemerintah Rusia, Negara asal pesawat ini, mengirimkan 78 ahli untuk membantu penyelidikan menyeluruh terhadap insiden. Tak kurang pernyataan Presiden Rusia Vladimir Putin yang menyatakan akan semua langkah investigasi dan menyatakan akan membongkar  “ Kejahatan  “ yang bisa saja terjadi dalam kecelakaan ini.

Dalam pidatonya, Putin menyatakan Sukhoi adalah kebangkitan Rusia, dalam konteks ini, ketika Putin menyatakan akan membongkar  “Kejahatan”  yang mungkin terjadi, semua maklum bahwa Dia mencium ada sekenario yang tidak menghendaki Rusia bangkit, Di tengah tragedi Sukhoi ini ada suatu yang sangat di pahami oleh Vladimir Putin, Dia paham betul bahwa Indonesia adalah pasar yang sangat strategis dan diinginkan oleh banyak bangsa di dunia, Terbukti pembelian terbesar Boeing sepanjang sejarah hanya terjadi di Indonesia.

Putin juga sangat paham siapa saja pesaing yang sedang bermain di Indonesia, Namun sayangnya pemahaman yang sama justru tidak terjadi pada bangsa kita.

Masih segar dalam ingatan bagaimana sebuah perusahaan ditanah air begitu bangga diri karena bisa membeli ratusan pesawat boeing dan dinobatkan sebagai pembelian terbesar sepanjang sejarah boeing yang merupakan produk buatan Amerika itu, Juga masih segar dalam ingatan kita bagaimana maskapai penerbangan Merpati membela habis–habisan pesawat dari China, MA -60, yang pada saat itu juga mengalami kecelakaan , namun tetap diikuti dengan pembelian selanjutnya.

Hari ini, kita dikejutkan lagi dengan kehadiran pesawat komersial dari Rusia, tidak ada hiruk–pikuk sebelumnya, tidak  ada pemberitahuan yang mencolok. Kita mengetahui hadirnya pesawat ini karena kecelakaan yang terjadi. Kita pun kemudian mengetahui, ternyata berpuluh–puluh pesawat  Sukhoi Superjet 100 buatan Rusia ini telah siap dibeli dan dioperasikan di Indonesia.

Semua yang terjadi di depan mata kita itu ternyata belum cukup membuat kita paham tentang apa yang sedang berlangsung, Bangsa Indonesia membangun industri pesawat terbang sejak tahun 1976. Ketika itu industri pesawat tebang kita mulai dengan merakit pesawat–pesawat rancangan bangsa lain.

Sukses membangun pesawat rancangan bangsa lain, Indonesia beranjak membuat pesawat dengan cara berpartner, 50 – 50 dengan CASA Spanyol. Lahirnya pesawat CN – 235 yang telah memukau industri kedirgantaraan dunia, Pada pameran paris airshow tahun 1994, Indonesia berhasil memenangi kontrak pembelian sebanyak 120 pesawat, mengalahkan pesaing – pesaingnya.

Pada tahun 1980-an, China telah menyatakan kekagumannya atas perkembangan industri kedirgantaraan kita, Mereka bahkan sempat mengunjungi pabrik di Bandung.

Indonesia terus melangkah maju, Pada tahun 1995 Indonesia mencatat sejarah atas keberhasilan membuat pesawat sendiri. Pesawat canggih N–250 dengan tehknologi fly-by-wire ini sepenuhnya buatan anak – anak Indonesia. Di susul lahirnya pesawat N – 2135.

Memilih Jadi Penonton

Kejayaan Indonesia dalam industri kedirgantaraan tinggal selangkah lagi. Hingga tahun 1997, krisis ekonomi berimbas kenegara kita, Dana Moneter Internasional ( IMF ) melarang Indonesia meneruskan proyek pengembangan pesawat terbangnya. IMF juga tak mengijinkan Indonesia membiayai order pembelian 120 pesawat yang telah diperoleh.

Ki Hajar Dewantara pernah berkata,  “ Suatu saat akan terjadi di negri kita, sebuah jaman kebingungan, yaitu ketika semua orang menganggap wajar segala sesuatu, tetapi sesungguhnya yang terjadi adalah untuk kepentingan bangsa lain”.

Pembelian besar – besaran pesawat boeing dari Amerika kita anggap sesuatu yang wajar, bahkan dinilai sebagi prestasi. BUMN seperti Merpati yang menggunakan pesawat – pesawat MA – 60 dari China dianggap wajar, bahkan sesaat setelah kecelakaan menimpa MA – 60, direksi merpati menyatakan,  “Kita tetap akan menggunakan pesawat MA-60 dari China” Tak kurang hebatnya pembelaan yang ditunjukan  seorang mentri ketika balik bertanya kepada wartawan, “ Apa salahnya membeli pesawat dari China?”

Hari ini, beberapa saat setelah kecelakaan terjadi, yang kita dengar dari seorang pembantu presiden adalah “ Kita akan tetap menggunakan Sukhoi”.  Pernyataan – peryataan yang menunjukan loyalitas luar biasa!

Bangsa Indonesia Hari ini lebih memilih jadi penonton sementara bangsa – bangsa lain jadi pemain di negri kita, Kita tahu layaknya dalam permainan apa pun, Piala takan pernah jatuh ketangan penonton, Bahkan penonton yang harus selalu membayar biaya permainan. Semakin hebat sang pemain semakin mahal penonton harus membayarnya!

Kita patut bertanya, jika sikap loyal itu bisa kita tunjukan kepada bangsa lain, bisakah kita memiliki pembelaan yang setara kepada bangsa kita sendiri?

Di dalam peesawat sukhoi itu anak – anak bangsa turut menjadi korban kecelakaan, termasuk seorang direktur pemasaran IPTN yang sedang mengejar janji mereka untuk dapat turut membuat ekor pesawat sukhoi yang akan dipasarkan di Negri kita.

Ibu pertiwi menangis, Kita tahu IPTN bukan sanggup membuat ekor pesawat, IPTN sanggup membuat pesawat sediri, dengan teknologi canggih rancangan sendiri, secanggih teknologi yang sekarang digunakan oleh Boeing dan Sukhoi.

Jika Rusia bias menjadikan sukhoi sebagai salah satu symbol kebangkitannya, mengapa bangsa kita tidak?, sementara pasar yang mereka bidik adalah pasar kita sendiri.

Namun kebangkitan ini tidak akan lahir dari seorang direksi, juga tidak akan lahir dari seorang mentri. Kebangkitan ini hanya akan lahir dari kesungguhan seorang presiden, Seorang presiden yang mau memahami bahwa IPTN bukan sekedar proyek pembuatan pesawat terbang, lebih dari itu IPTN adalah sebuah proyek kebangkitan karakter bangsa Indonesia!

HEPPY TRENGGONO

Pemimpin Gerakan Beli Indonesia

Leave a Reply