Kita Mau Pembelaan

Jogjakarta, 26/04/2012. Setiap kali ada masalah dengan negara lain yang menyangkut warga negara kita, jarang sekali ada pembelaan yang memuaskan dan membanggakan kita sebagai anak-anak negeri ini . Kegeraman dan rasa kecewa lebih banyak pecah di perut. Kalaupun pecah di mulut hanya bentuk gumam atau “grundel” yang tidak memiliki akibat apa-apa untuk merubah keadaan. “Pemerintah kita lebih sering bertindak sebagai juru bicara negara lain daripada sebagai pemimpin yang membela dan melindungi anak-anak bangsa sendiri,” kata Heppy Trenggono, pemimpin Gerakan Beli Indonesia di Jogjakarta, Kamis siang. Heppy menegaskan hal ini di sela-sela workshop Financial Literacy, yang didelenggarakan oleh IIBF Jogjakarta.

Kasus terakhir yang menimpa 3 orang TKI asal NTB, Herman (34), Abdul Kadir Jailani (25) dan Mad Noor (28) yang tewas ditembak polisi Malaysia di Port Dickson, Negeri Sembilan, pertengahan April 2012. Ketiganya dipulangkan dengan jasad tidak utuh, beberapa organ vitalnya hilang dan diduga kuat organ itu diambil untuk diperdagangkan. Kasus ini adalah kejahatan kemanusiaan yang luar biasa, yang dilakukan dengan mudah oleh bangsa lain terhadap anak negeri kita dengan mengabaikan keberadaan sebuah bangsa besar bernama Indonesia. Mengapa? “Karena pemimpin kita tidak menunjukkan pembelaan terhadap anak-anak negeri ini. Lebih banyak menjaga rasa tidak enak dengan bangsa lain daripada menjaga perasaan bangsa sendiri,” tegas Heppy. Meksipun Indonesia adalah bangsa besar dengan wilayah, penduduk dan kekayaan yang besar tetapi hampir tidak diperhitungkan oleh bangsa lain, “Bangsa besar itu karena karakternya, tanpa karakter semua itu tidak ada artinya karena dengan mudah orang melupakannya,” lanjut Heppy.

TKI/TKW adalah anak-anak negeri kita yang mencari penghidupan di negeri lain karena mereka sulit mencari penghidupan di negeri sendiri. Ironisnya, ketika anak-anak kita kesulitan mencari hidup di negeri sendiri, bangsa lain justru membangun kekayaan di negeri ini. Mereka menguasai kekayaan alamnya dan menjadikan penduduknya sebagai pasar untuk produk-produk mereka. Maka jadilah Indonesia sebagai negara yang tidak hanya terjajah tanah airnya tetapi juga terjajah kehidupannya. Maka jika dilihat dari perlakuan yang diterima oleh TKI/TKW di luar negeri selama ini, sebutan Pahlawan Devisa itu tak lebih dari jargon untuk menutupi kegagalan pemimpin membangun kekayaan negeri untuk mensejahterakan anak bangsanya sendiri.

“Saya sering meminta kepada banyak orang yang saya temui agar anak perempuan, saudara perempuan dan perempuan-perempuan kita janganlah dikirim menjadi TKW ke luar negeri,” kata Aswandi As’an, mantan jurnalis yang pernah membuat investigasi terhadap TKI di Malaysia dan Timur Tengah. Aswandi yang duduk di sebelah Heppy menceritakan apa yang dilihatnya di beberapa negara bagian di Malaysia ketika kisah tentang TKI yang disweeping oleh pasukan Rela Malaysia mencuat beberapa tahun lalu. Termasuk penembakan 4 TKI asal NTT oleh security sebuah perusahaan di kawasan Syah Alam. Mereka ditembak dengan shotgun dengan tuduhan mau mencuri. Padahal keempat TKI itu mau tidur di semak-semak untuk menghindari sergapan pasukan Rela di malam hari. “Saya tidak melihat adanya sikap fight dari kedutaan Indonesia di Malaysia untuk membela keempat TKI itu,” kata Aswandi. TKI/TKW yang tidak berdokumen sebagian besar memang disengaja oleh para cukong dan mafia agar harga mereka lebih murah dan nasibnya bisa dipermainkan. Aswandi mengisahkan, TKW-TKW kita yang harus melayani majikan “luar dalam” bukan kisah langka yang hanya terjadi dalam satu dua kasus tetapi bisa ditemui di mana-mana. “Ada juga sih yang diperlakukan dengan baik oleh majikannya tetapi tidak sedikit yang dikerjain di sepanjang jalan mulai dari penampungan hingga penyaluran bahkan banyak yang dijerumuskan ke tempat-tempat pelacuran. Kebanyakan mereka tidak mau bercerita karena hal itu dianggap aib,” kisah Aswandi. Kejadian-kejadian ini tidak hanya merendahkan dan menistakan martabat dan marwah mereka yang mengalami tetapi juga merendahkan martabat kita sebagai bangsa. Mengukurnya gampang, rasakan bagaimana sikap warga negara itu ketika kita masuk ke negara mereka begitu mereka tahu kalau kita warga negara Indonesia. Bandingkan bagaimana perlakuan mereka terhadap warga negara Amerika. Amerika sangat dihargai tinggi, karena mereka tahu begitu ada satu warga negaranya diganggu maka satu kapal induk Amerika dengan perlaatan dan pasukan lengkap akan diturunkan untuk membelanya.

Melihat dari dari cara bertindak dan bersikap pemerintah kita selama ini, tampaknya kasus Herman dan kawan-kawanya itu bukanlah kasus terakhir Boleh jadi kasus serupa sudah sering terjadi dari kematian-kematian tak wajar TKI-TKI kita selama ini. Dan terus berulang karena selalu diabaikan dan tidak adanya sikap pembelaan pemimpin. Dulu Soekarno telah mencontohkan bagaimana bersikap membela anak-anak negerinya. Meskipun anak kita salah dan harus dihukum, tetap harus dibela dan jangan orang lain yang menghukumnya tetapi kita yang harus menindaknya. Maka meskipun kita ini bangsa dengan wilayah dan penduduk besar tetapi kita belum menjadi bangsa besar. “Bangsa besar itu dipimpin oleh pemimpin yang membela bangsanya, bangsa kerdil adalah bangsa yang dipimpin oleh pemimpin yang mengabaikan bangsanya,” kata Heppy mengakhiri. (AA)

Leave a Reply